Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam
SatzanNews, JAKARTA - Hasil survei modern SMRC mengungkapkan, Ganjar Pranowo memiliki efek positif pada penguatan bunyi Golkar.
Jika Ganjar dipasangkan dengan Airlangga, bunyi Golkar akan naik dan PDIP akan turun.
Merespons hasil survei SMRC tersebut, Ketua DPP Partai Golkar Dave Laksono menyatakan partainya tetap mengusung Ketua Umum Airlangga Hartarto selaku kandidat presiden (capres) pada pilpres 2024.
Hal itu sebagaimana diamanatkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019.
"Berdasarkan hasil putusan Munas Golkar, kandidat presiden kami yakni Pak Airlangga," kata Dave terhadap wartawan, Jumat (18/11/2022).
Pengusungan nama Airlangga Hartarto selaku capres yang diusung Partai Golkar juga diperkokoh pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar pada 2021.
Menurut Dave, sampai di sekarang ini belum ada ihwal untuk meninjau atau merubah putusan Munas Golkar tersebut.
Artinya, Partai Golkar masih tegak lurus melakukan putusan partai untuk mengusung Airlangga.
"Tidak ada ihwal apa pun untuk merubah putusan munas," ujarnya.
Menurut Dave, putusan Munas Golkar berlaku tetap sebelum ada hasil munas yang merubah keputusan tersebut.
"Dan mesti lewat munas untuk merubah keputusan tersebut," pungkasnya.
Hasil Survei Eksperimen SMRC, Jika Golkar Tunjuk Ganjar Pranowo Makara Capres, Bisa Meningkatkan Lumbung Suara Golkar
Dalam hasil survei eksperimen SMRC modern Oktober 2022 melibatkan 267 responden dan margin of error sekitar 6,1 persen.
Dilaporkan kalau Partai Golkar menunjuk Ganjar Pranowo jadi kandidat presiden dari koalisi Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) 2024 mendatang. Diklaim bakal mengembangkan perolehan bunyi partai berlogo pohon beringin tersebut.
“Kalau Ganjar Pranowo yang dicalonkan oleh Partai Golkar ada peningkatan perolehan bunyi yang cukup signifikan dari 11 persen menjadi 17 persen. Itu memiliki arti enam persen Ganjar Pranowo dapat menaikan bunyi Partai Golkar,” kata Saiful Mujani melaporkan secara daring hasil survei eksperimen SMRC, Kamis (17/11/2022).
Naiknya bunyi Partai Golkar itu menurut Mujani diambil dari partai lain. Dikatakannya yang paling berpengaruh perolehan bunyi dari PDIP.
“Mungkin saja selama ini bunyi PDIP senantiasa di atas perolehan bunyi 2019 dalam survei-survei nasional berada di angka 24, 25 sampai 26 persen. Ternyata salah satu unsurnya tidak bisa dipisahkan dari sosok Ganjar Pranowo,” sambungnya.
Dikatakan Mujani kalau Ganjar Pranowo pindah ke partai lain basis suaranya juga bakal ikut berpindah.
“Jika Ganjar Pranowo pindah ke partai lain suara-suara pemilihnya juga ikut. Makara kalau Gubernur Jawa Tengah itu dicalonkan oleh Partai Golkar kelihatannya bakal menawan pemilihnya untuk pergi ke Golkar dalam hal ini pemilih PDIP,” sambungnya.
Efek yang lain dibilang Mujani menghasilkan perolehan bunyi tiga partai papan atas menjadi setara antara PDIP, Golkar dan Gerindra.
“Jadi kalau Ganjar Pranowo dicalonkan oleh Partai Golkar jadi capres peta kekuatan partai politik berubah cukup banyak. Perolehan bunyi Golkar, PDIP dan Gerindra jadi seimbang.” tutupnya.
0 Komentar